Iqbal Parewangi: Penelitian dan Peneliti Indonesia Tersandera Negara

kunker-dpd_20170711_230855

MAKASSAR – Tahukah Anda jika peneliti masih menjadi manusia langka di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Langka memang amat langka. Menurut Senator RI asal Sulsel Iqbal Parewangi dalam satu juta penduduk di Indonesia hanya terdapat 90 peneliti.

“Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sedang tersandera di negeri ini. Sejatinya, iptek berperan penting meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendukung program pembangunan. Iptek juga menjadi andalan pendukung daya saing dan meningkatkan perekonomian bangsa,” ujar Iqbal dalam Rapat Kerja Komite III DPD RI dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel di Kantor Gubernur Susel, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (11/7/2017).

Senator pencetus Beasiswa Senator dan pendiri Gama College itu berharap cendekiawan dan akdemisi Sulsel memberi kontribusi nyata dalam upaya membebasakan peneliti, penelitian, dan iptek dari ketersanderaan negara.

“Dalam menyusun pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Sistem Nasional IPTEK, Komite III melakukan kunjungan kerja ke tiga provinsi yang merepresentasikan wilayah timur, tengah dan barat Indonesia. Sulsel representasi wilayah timur,” ujar Iqbal.

Menurut pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Muda itu, aspirasi, pemikiran, dan gagasan dari Sulsel terkait RUU ini dinilai penting.

“Termasuk agar peneliti dan penelitian serta pengembangan IPTEK di negeri ini tidak terus-menerus tersandera oleh negara. Ketersanderaan itu terlihat pada sejumlah indikator posisi Indonesia dalam pengembangan iptek,” kata Iqbal.

Senator yang sangat ketat dalam angka dan fakta itu mengatakan, mencontohkan jumlah peneliti per 1 juta penduduk. Tahun 2015, misalnya, di Indonesia baru 90 peneliti per 1 juta penduduk. Bandingkan dengan negara berpenduduk besar lainnya, India sudah 160 dan Tiongkok 1020. Brasil 700, Rusia 3000, dan Korea 5900 peneliti per 1 juta penduduk.

Indikator lain, total belanja nasional untuk penelitian dan pengembangannya terhadap PDB. Tahun 2015, Malaysia sudah mendekati 2 persen, China di atas 2 persen, Israil 4 persen, sementara Indonesia belum mencapai 0,1 persen.

“Dengan jumlah cendekiawan dan lembaga pendidikan tinggi terbesar di wilayah timur Indonesia, besar harapan bahwa masukan penting dari Sulsel terhadap RUU Sisnas IPTEK dapat berkontribusi besar dalam memerdekakan dunia penelitian dari ketersanderaan oleh negara,” jelas Iqbal. (Tribunnews.com)

Leave a reply